Cerpen
GORESAN RINDU DALAM DOA
oleh: Dian Anggini
“Teeeettttttttttttttttt.............”. Suara bel pun tak
mengagetkan Dian dalam lamunannya. Dua tangan yang beda aktivitas, satu
menyibukkan ketukan, satunya menahan kepalanya. Pikiran dengan pandangan yang
tak searah. Hanya angin dan bunyi detik jam sebagai sahabat yang selalu setia
menemaninya. Dian tak peduli punya teman ataupun tidak, baginya sama saja
karena dirinya lebih suka menyendiri dan merasa mampu mengatasi segala masalah
dengan sendiri. Sehingga tak heran kalau teman-teman sebaya nya menganggap Dian
tak normal atau aneh.
Jam menunjukkan angka setengah enam. Tak lama kemudian suara adzan
Maghrib terdengar mengusik lamunannya. Sikap yang dingin dan sedikit tomboynya
bergegas mengambil tas dan melangkahkan kakinya meninggalkan kelas. Sapa Satpam
pun tak di hiraukannya. Ditariknya gas motor dengan kelajuan yang tinggi meninggalkan
sekolahnya.
“Kreeeettt..”. Terdengar suara pintu dibuka.
“Nak.. Dari mana saja? kok baru pulang? ibu mengkhawatirkanmu”.
Mencoba meraih tangan Dian. Dengan sikap yang cuek, Dian memegang tangan ibunya
untuk melepaskan darinya. “Ibu tidak usah khawatir, bukannya sudah terbiasa
seperti ini? Aku sudah kelas 2 SMA bukan anak SD lagi”. Meletakkan tas di meja
dan melangkah menuju kamarnya. “Dian.. maafkan Ibu”. Suara lirih yang
keluar dari bibir lembut Bu Inayah.
“Hallo, Assalamu’alaikum Bu.”
“Wa’alaikumsalam, dengan siapa ya?”
“Saya Ikhsan teman sekolahnya Dian Bu.”
“Ooh.. iya ada apa nak Ikhsan? Dian nya sudah istirahat, nanti Ibu
sampaikan pesan dari nak Ikhsan?.”
“Alhamdulillah, Dian sudah pulang. Saya cuma ingin memastikan saja
keadaan Dian Bu.”
“tuutt... tuutt...” Tiba-tiba telepon terputus. Bu Inayah
meletakkan telepon rumah dengan hati yang begitu bahagia dan menuju kamar Dian.
“Dian, suatu hari nanti kau akan tahu maksud Ibu nak.” Meredupkan lampu
dan mencium kening Dian. Tangan lembutnya menarik selimut menghangatkan badan
Dian.
Angin terasa mencekam suasana malam itu. Sebuah kenangan masa lalu
hadir dalam mimpi Dian. Rintihan terdengar dari bibirnya. Keringat dan Air mata
mengalir membasahi pipi lembutnya.
“Nenekk... Bapak...” jeritan yang berulang kali terucapkan di
setiap mimpinya. Tekanan yang sering dialami membuatnya sering terlihat muram
sampai Dian sendiri pun lupa caranya tersenyum.
Pagi harinya, sambil menyiapkan makanan untuk sarapan, bu Inayah
memanggil Dian agar segera keluar makan dan langsung berangkat ke sekolah.
Dengan wajah yang selalu ceria Bu Inayah menyambut Dian dan menggeserkan kursi
buat Dian.
“Ibu sangat senang, ternyata kamu mempunyai teman yang sangat
perhatian kepadamu nak.” Bu Inayah mencoba membuka pembicaraan. Tak ada jawaban
dan respon dari Dian. Hanya diam.
“Dian, wajahmu terlihat pucat. Kamu sakit nak?.” Tanya Bu Inayah.
Suasana masih terlihat sama. Hening. Diam dan berlalu pergi begitu saja. Itulah
sikap Dian sehari-harinya.
Hingga tiba di sekolah, ada seorang teman yang memanggilnya dari
belakang. “Dian.. Dian..” sejenak Dian berhenti dan menoleh ke belakang.
“Dian.. masih ingat denganku? Aku Anggi... teman sekaligus sahabat SD kamu
dulu.” Sikap polos Anggi yang terus mengejar langkah Dian yang meninggalkannya.
Anggi yang cerewet dengan sejuta katanya itu terus mengingatkan Dian tentang
masa kecil saat-saat bermain bersama. Sikap acuh Dian tidak menghentikan Anggi
mendekati dan mengajaknya bercanda bersama.
Ketika di bawah pohon, Anggi menghampiri Dian. Dengan wajah yang
tak biasanya. Kini Anggi terlihat serius ingin berbicara dengan Dian.
“Dian, mungkin kau pura-pura tak mengenalku atau bahkan memang tak
mengenalku. Apakah kau juga tak mengenal lagi nenekmu?”
Dian hanya diam, sekilas menatap Anggi kemudian memalingkan mukanya
lagi. Di bawah pohon yang rindang, tempat biasa Dian menyendiri. Kali ini di
temani seorang teman bahkan sahabat kecilnya. Hanya angin dan debu yang
bertebangan yang mendengar pembicaraan mereka. Sebuah perbincangan yang
mengusik masa lalu untuk masa depan mereka.
“Dian, apakah kamu tahu betapa aku mengkhawatirkanmu? Aku selalu
mencari kabar tentangmu. Aku rela pindah sekolah demi kamu. Bagiku persahabatan
kita untuk selamanya.” Tak sadar air mata Anggi membasahi tangan Dian. “Maafkan
aku Dian.”
Anggi pergi membiarkan Dian sendiri. Meninggalkan sebuah kertas
kecil berisikan pesan. Dian membukanya dan terlihat sebuah bayangan masa lalu.
Surat kecil untuk Anggi dari Dian. Air mata tak bisa di tahannya lagi. Tangan
pun membiarkan tak menyentuhnya. Dari kejauhan Ikhsan mengamati secara
diam-diam. Ingin rasanya mendekap dan menenangkan hati Dian. Tapi rasanya itu
belum waktu yang pas untuk melakukan itu. Hanya perhatian dari jauh dan sebuah
doa yang dilantunkan disetiap sholatnya untuk Dian.
Hari demi hari hidup yang Dian jalani masih sama. Belum ada
perubahan. Entah apa yang membuatnya berubah seperti masa kecilnya yang ceria
dan penuh senyum. Begitu sulit bagi Dian untuk merubah dirinya seperti dulu.
Kenangan, trauma, dan penyesalan yang teramat mendalam yang membuat hidupnya
seperti sekarang ini.
“Dian, kita akan ujian semester pekan besok. Maukah kamu belajar
kelompok denganku?” ajak Anggi.
“Itu ga penting.” Ketus Dian meninggalkan Anggi.
“Kau akan merasakan pentingnya seseorang dalam hidupmu setelah dia
pergi dari hidupmu.” Sejenak kata-kata Anggi itu menusuk hati Dian yang mampu
menghentikan langkahnya. Dian menoleh ke belakang, namun tak ada siapapun
bahkan Anggi pun sudah pergi.
Hari ujian tiba. Semua anak bersiap diri mencari tempat duduk yang
sesuai dengan nomer yang didapatkannya. Sedangkan tempat duduk Dian terlihat
masih kosong. Tampak Ikhsan mencari-cari Dian di tempat biasa, namun tak terlihat
batang hidung Dian sama sekali. Waktu ujian hampir selesai, tiba-tiba Dian
masuk kelas.
“Dian, kamu dari mana? Kamu tahu hari ini ujian kan? Sekarang jam
berapa? Sekarang kamu keluar. Ujian sudah selesai.” Ucap guru penjaga ujian.
Dian pun keluar kelas.
“Dian..” panggil Ikhsan. “Kenapa baru datang sekolah?” gugup
Ikhsan. Dian memperhatikan Ikhsan. “Aku ga kenal kamu.” Singkat Dian.
“Iya, aku tahu. Maukah kamu menjadi temanku? Kita bersahabat.”
Mendengar kata itu mengingatkan Dian waktu kecil, pertama kali mengajak
bersahabat dengan Anggi. “Mengapa?” jawab Dian. Sebuah jawaban yang sama ketika
Anggi menjawab permintaan Dian untuk bersahabat. “Karena sahabat selalu ada
ketika suka maupun duka.” Lagi-lagi jawaban Ikhsan sama persis dengan jawaban
Dian ketika di tanya Anggi. Dengan segera Dian berlari meninggalkan Ikhsan.
Duduk di bawah pohon yang biasa yang mampu membuatnya lebih tenang.
Dalam keheningan dan semilir angin, goresan demi goresan tinta itu
menyentuh putihnya lembaran kertas di tangannya. Tetes air mata melunturkan
goresan rindu akan kehidupannya di masa lalu. Kehidupan yang penuh warna-warni
kebahagian dan keceriaan. Tapi kini kehidupannya berubah 180 derajat. Kehidupan
yang datar, hampa, sunyi, dan penuh tangisan penyesalan.
“Dian, bagaimana ujian hari ini? Lancar kan? Sayang kita ga satu
ruangan ya.” Kedatangan Anggi menyadarkan dari lamunannya. Dengan segera Dian
menutup lembaran kertas yang baru saja ditulisnya.
“Iya, lancar.” Jawab Dian dengan sedikit senyum yang di paksakan.
“Diaaannn,, cantik nya kamu kalau tersenyum. Senyum adalah ibadah,
banyaklah tersenyum. Jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah
agar kau bahagia.” Ceramahnya Anggi. Dengan semangat Anggi bercerita tentang
soal-soal ujian yang baru saja ia selesaikan. Siang itu menjadi awal Dian mulai
menerima kehadiran Anggi kembali. Mereka pun pulang sekolah bersama-sama
walaupun sekarang beda kecamatan jauh.
“Assalamu’alaikum.” Ucap Dian sampai di depan rumah.
“Wa’alaikumsalam, tumben Dian sudah pulang? Ibu sangat senang.
Bagaimana ujian pertamanya nak?” tanya Bu Inayah mendekati Dian. Walau sedikit
ada perubahan pada Dian, namun sikap dinginnya kepada Ibunya masih ada. Dian
hanya diam dan pergi ke kamarnya seperti biasa.
Di tengah malam, suara jeritan Dian lagi-lagi terdengar. Kali ini
jeritan itu lebih keras sehingga membangunkan Ibunya.
“Dian, Dian, bangun nak. Ada apa nak?” kecemasan tampak pada wajah
Bu Inayah. Tak lama kemudian, Dian pun bangun dan menangis terisak-isak.
“Pergi.. pergi..” tangisan dan amarah yang amat dalam pada diri
Dian menyuruh Ibunya untuk meninggalkan kamarnya. Tak kuasa melihat keadaan
anaknya, Bu inayah keluar kamar meninggalkan Dian sendiri dengan hati yang
sedih dan rasa bersalah.
Langkah yang gontai dan air mata yang terus jatuh, Bu Inayah
melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Sholat
tahajudlah yang mampu menenangkan hati di setiap malam-malamnya.
“Ya Allah, Ampunilah dosa-dosaku, suamiku, anakku dan keluargaku.
Maafkan aku. Maafkan dosa-dosaku di masa lalu. Berilah kebahagiaan kepada
anakku.” Doa yang selalu di ucapkan setiap selesai sholat tahajud. Tak
menyangka, di balik pintu kamar Bu inayah, berdiri Dian yang cukup lama untuk
mendengar doa-doa Ibunya. Rasa penyesalan sikap selama ini terhadap Ibunya mulai
muncul. Tak kuasa menahan air mata, Dian kembali ke kamarnya lagi.
Hari kedua, ketiga, sampai selesai ujian berlalu, tak satu pun
pelajaran yang di ikuti Dian untuk kenaikan kelas tiga. Hingga penerimaan
raport pun tiba, Dian di nyatakan tidak naik kelas. Rasa malu dan sedih
bercampur menjadi satu itu dirasakan oleh Bu Inayah.
“Dian, lihatlah Ibumu itu. Dia jauh-jauh datang ke sekolah untuk
menerima berita bahagia dari anaknya, kamu Dian. Tapi kamu mengecewakannya
begitu saja. Apa yang terjadi denganmu? Apa yang kamu lakukan sekarang ini
hanya akan membawa penyesalan di hari esok.”
“Berubahlah Dian, jangan kau kecewakan orang-orang yang
mencintaimu. Ibumu, aku dan Ikhsan.” Mendengar sebutan Ikhsan, Dian menatap
Anggi dengan rasa penasaran.
“Asal kamu tau, Ikhsan selama ini mempedulikanmu,
mengkhawatirkanmu, dan selalu mendoakanmu di setiap sholatnya. Ceritalah
kepadaku tentang masalahmu Dian, jangan hanya menangis dan emosi. Berbagilah
denganku, mungkin aku bisa membantumu.” Dengan lembut Anggi mengusap air mata dan
memeluk Dian.“Suatu saat nanti kamu akan menemukan kebenaranya Dian.”
Umur yang semakin tua, Bu Inayah mulai sakit-sakitan. Sering sekali
batuknya mengeluarkan darah. Kadang Dian menyuruhnya untuk memeriksakan ke
dokter. Bu Inayah selalu menolak dan menganggap hal itu bukan penyakit yang
serius. Perhatian yang di berikan Dian pun bertambah dari biasanya. Dian mulai
khawatir dan takut kehilangan Ibu yang selama ini menyayanginya. Waktu berjalan
dengan cepat, perubahan demi perubahan sedikit nampak pada diri Dian. Dari
sikap ramah dan murah senyumnya membuat banyak teman yang mau menjadi
sahabatnya. Hal ini tidak lepas dari usaha Anggi yang selalu memotivasi Dian
untuk berubah. Kedekatan mereka semakin terjalin.
“Dian, boleh datang ke kantor sebentar?” minta guru tiba-tiba.
“Baik bu.” Jawab Dian singkat.
Seusai keluar dari kantor, Dian duduk menangis di depan kelas.
Anggi pun keluar menemui Dian. Ternyata berita duka meninggalnya Bu Inayah
disampaikan oleh tetangganya melalui telepon sekolah.
“Disaat aku mulai berubah dan berusaha menerima semuanya, kenapa
Ibu malah pergi meninggalkanku. Aku sendiri. Benar-benar sendiri.” menangis
memeluk Anggi.
“Sabar ya Dian, semua sudah rencana-Nya. Setidaknya Bu Inayah
bahagia melihat perubahanmu dan meninggalkanmu dengan tenang.” Anggi berusaha
menenangkan hati Dian.
Setiap waktu yang Dian jalani yaitu penyesalan-penyesalan yang
telah dilakukan kepada Ibunya dulu. Dalam hatinya ia berjanji tidak akan
mengulangi kesalahan bodoh yang ia lakukan dulu. Setiap sholat dan doa, tak
lupa menyertakan untuk Ibunya. Rindu kepada Ibunya kini hanya bisa diucapkan
dalam doa.
Hari-hari Dian habiskan bersama Anggi. Hanya Anggilah satu-satunya
sahabat sekaligus saudara yang dekat dengannya. Tak terasa, waktu ujian kelas
tiga semakin mendekat. Setiap hari Anggi belajar ditemani Dian. Penyesalan Dian
dulu yang tidak serius sekolah sehingga menyebabkan dirinya tidak naik kelas
menjadikannya rajin belajar bersama Anggi. Anggi telah merubah hidupnya menjadi
lebih ceria dan bersemangat. Sampai perpisahan wisuda kelas merupakan hal yang
sangat menyedihkan bagi Dian.
“Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, tapi aku yakin suatu saat
nanti kita akan dipertemukan lagi. Selamat ya Anggi.” Peluk Dian.
“Terimakasih Dian, semangatlah. Akan ku tunggu kamu. Aku akan
selalu merindukan kamu dan persahabatan kita.”
Setahun kemudian, Dian sudah tidak mendengar kabar Anggi lagi
begitu juga Ikhsan. Rasa rindunya untuk bercerita tentang kesuksesan yang
diraihnya karena dukungan Anggi, tak sabar ingin dibagikan kepada sahabatnya
itu. Dian kesulitan mendapatkan nomer HP Anggi. Surat yang di kirimnya pun
tidak pernah di balas. Anggi seakan-akan menghilang begitu saja.
Suatu hari, Dian mendatangi tempat rumahnya Anggi yang dulu,
mungkin saja masih tetap tinggal disana.
“Dian, cari siapa?” tanya salah satu tetangga dekat rumah Anggi.
“Anggi bu, dari tadi ko ga ada yang membukakan pintu ya?” jawabnya.
“Dian ga tahu ya, Anggi kan sudah meninggal dunia sejak kecil, lima
tahun yang lalu akibat kecelakaan. Rumahnya sudah tidak di pakai lama,
keluarganya pindah sejak meninggalnya Anggi.” Cerita tetangganya dulu. Betapa
kaget seakan di sambar petir hati Dian. Seakan tidak percaya dengan apa yang
selama ini terjadi pada dirinya dan Anggi. Dian pun pulang dengan rasa tidak
percaya dan berharap ini semua hanya mimpi.
Sesampai di rumah, Dian menangis mengingat kenangan-kenangan
bersama Anggi yang mungkin itu hanya khayalan belaka yang mengubah hidupnya
selama ini. Kenangan bersama Ibunya pun teringat saat-saat sikapnya yang
menyebalkan membuat hati Ibunya sedih. Suatumalam, tiba-tiba hatinya
menggerakkan untuk menuju kamar Ibunya yang sudah lama tak dibersihkan. Di
dalam laci lemari Dian menemukan sebuah diary Bu Inayah. Diary itu seperti
hidayah yang membukakan hatinya yang selama ini salah paham kepada Ibunya dan
juga pada Anggi. Bukan Ibunyalah yang menyebabkan perceraian dengan ayahnya dan
menyebabkan neneknya meninggal. Penyesalan yang amat mendalam membuatnya ingin
mengulangi kehidupan kemarin disaat masih bersama Ibunya. Namun nasi sudah
menjadi bubur. Waktu itu tidak bisa di ulang kembali.
Dalam keheningan malam, hanya suara angin dan jeritan hati yang
Dian rasakan. Ibu... Anggi.. maaf...
Air mata sebanyak air laut pun tak mampu mengembalikan semua yang
sudah terjadi. Kata maaf. Hanya maaf dan doa yang bisa Dian berikan untuk
kalian. Dian merindukan kalian.
Goresan hati tak akan pernah berhenti untuk merindukan kalian dalam
setiap doa-doa Dian..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar