BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Banyak orang yang mengenal kata positif dalam kehidupan
sehari-hari. Mereka mengartikan positif sebagai kata yang mengandung arti baik
atau berguna. Sesuatu yang baik maka itu sesuatu yang positif, begitu
sebaliknya, jika sesuatu yang buruk maka sesuatu itu dianggap negatif, yang
merupakan lawan kata dari positif.
Dalam makalah ini akan dibahas tentang positif yang artinya berbeda
dengan arti yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kata positif
pertama kali digunakan oleh August Comte yang berperan penting dalam
mengafirkan filsafat dan sains di Barat, dengan memisahkan keduanya dari unsur
agama dan metafisis, yang dalam kasus Comte berarti mengingkari hal-hal
non-inderawi.
Ada perbedaan makna positif antara makna positif dalam kehidupan
sehari-hari dan makna positif dalam positivisme August Comte. Bagi orang awam,
pasti belum mengetahui arti positivisme, oleh karena itu dalam makalah ini akan
membahas tentang arti positivisme, positivisme August Comte, apa pengaruh
positivisme, dan yang lainnya pada bab pembahasan.
B.
Rumusan Masalah
a.
Apa pengertian positivisme?
b.
Bagaimana riwayat hidup August Comte?
c.
Bagaimana teori positivisme menurut August Comte?
d.
Apa pengaruh positivisme August Comte?
e.
Bagaimana kritik atas positivisme?
C.
Tujuan Makalah
Dalam pembahasan makalah ini mempunyai tujuan untuk mengetahui
positivisme menurut pemikiran August Comte dengan tiga teori tahapan
perkembangan pemikiran manusia.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Positivisme
Bagi
kalangan awam kata ’positif’ lebih mudah dimaknai sebagai ’baik’ dan ’berguna’
sebagai antonim dari kata negatif. Pemahaman awam ini bukannya tanpa dasar,
karena jika kita membaca, misalnya, kamus saku Oxford kita akan menemukan
’baik’ dan ’berguna’ dalam daftar makna untuk kata positive.[1]
Pada dasarnya positivisme adalah sebuah filsafat yang meyakini
bahwa satu-satunya pengetahuan yang benar adalah yang didasarkan pada
pengalaman aktual-fisikal. Pengetahuan demikian hanya bisa dihasilkan melalui
penetapan teori-teori melalui metode saintifik yang ketat, yang karenanya
spekulasi metafisis dihindari. Positivisme, dalam pengertian diatas dan sebagai
pendekatan telah dikenal sejak Yunani Kuno dan juga digunakan oleh Ibn
al-Haytham dalam karyanya Kitab al-Manazhir. Sekalipun demikian,
konseptualisasi positivisme sebagai sebuah filsafat pertama kali dilakukan
Comte di abad kesembilan belas. Adapun yang menjadi tititk tolak dari pemikiran
positivis ini adalah, apa yang telah diketahui adalah yang faktual dan positif,
sehingga metafisika ditolaknya. Di sini, yang dimaksud dengan “positif” adalah
segala gejala yang tampak seperti apa adanya, sebatas pengalaman-pengalaman
obyektif. Jadi, setelah fakta diperoleh, fakta-fakta tersebut diatur sedemikian
rupa agar dapat memberikan semacam asumsi (proyeksi) ke masa depan.[2]
B.
August Comte
Auguste Comte, yang bernama lengkap Isidore Marie Auguste Francois
Xavier Comte, di lahirkan di Montpellier Prancis selatan pada 17 Januari 1798. Setelah
menyelesaikan pendidikan di Lycee Joffre dan Universitas Montpellier, Comte
melanjutkan pendidikannya di Ecole Polytechnique di Paris.[3] Masa
pendidikannya di École Polytechnique dijalani selama dua tahun, antara 1814-16.
Masa dua tahun ini berpengaruh banyak pada pemikiran Comte selanjutnya. Di
lembaga pendidikan ini, Comte mulai meyakini kemampuan dan kegunaan ilmu-ilmu
alam.
Pada
Agustus 1817 Comte menjadi sekertaris, dan kemudian menjadi anak angkat, Henri
de Saint-Simon, setelah comte di usir dan hidup dari mengajarkan matematika.
Persahabatan ini bertahan hingga setahun sebelum kematian Saint-Simon pada
1825. Saint-Simon adalah orang yang tidak mau diakui pengaruh intelektualnya
oleh Comte, sekalipun pada kenyataannya pengaruh ini bahkan terlihat dalam
kemiripan karir antara mereka berdua. Selama kebersamaannya dengan Saint-Simon,
dia membaca dan dipengaruhi oleh, sebagaimana yang diakuinya, Plato,
Montesquieu, Hume, Turgot, Condorcet, Kant, Bonald, dan De Maistre, yang
karya-karya mereka kemudian di kompilasi oleh menjadi dua karya besarnya, the
Cours de Philosophie Positive dan Systeme de Politique Positive. Selama lima
belas tahun masa akhir hidupnya, Comte semakin terpisah dari habitat ilmiahnya
dan perdebatan filosofis, karena dia meyakini dirinya sebagai pembawa agama baru,
yakni agama kemanusiaan.
Pada
saat Comte tinggal bersama Saint-Simon, dia telah merencanakan publikasi
karyanya tentang filsafat positivisme yang diberi judul Plan de Travaux
Scientifiques Necessaires pour Reorganiser la Societe (Rencana Studi Ilmiah
untuk Pengaturan kembali Masyarakat). Tapi kehidupan akademisnya yang gagal
menghalangi penelitiannya. Dari rencana judul bukunya kita bisa melihat
kecenderungan utama Comte adalah ilmu sosial.
Secara intelektual, kehidupan Comte dapat diklasifikasikan menjadi tiga tahapan. Pertama, ketika dia bekerja dan bersahabat dengan Saint-Simon. Pada tahap ini pemikirannya tentang sistem politik baru dimana fungsi pendeta abad pertengahan diganti ilmuwan dan fungsi tentara dialihkan kepada industri. Tahap kedua ialah ketika dia telah menjalani proses pemulihan mental yang disebabkan kehidupan pribadinya yang tidak stabil. Pada tahap inilah, Comte melahirkan karya besarnya tentang filsafat positivisme yang ditulis pada 1830-42.[4]
Secara intelektual, kehidupan Comte dapat diklasifikasikan menjadi tiga tahapan. Pertama, ketika dia bekerja dan bersahabat dengan Saint-Simon. Pada tahap ini pemikirannya tentang sistem politik baru dimana fungsi pendeta abad pertengahan diganti ilmuwan dan fungsi tentara dialihkan kepada industri. Tahap kedua ialah ketika dia telah menjalani proses pemulihan mental yang disebabkan kehidupan pribadinya yang tidak stabil. Pada tahap inilah, Comte melahirkan karya besarnya tentang filsafat positivisme yang ditulis pada 1830-42.[4]
Auguste Comte meninggal pada tahun
1857 dengan meninggalkan karya-karya seperti Cours de Philosophie Possitive,
The Sistem of Possitive Polity, The Scientific Labors Necessary for Recognition
of Society, dan Subjective Synthesis.
C. Positivisme
August Comte
Di antara karya-karyanya Auguste
Comte, Cours de Philosphie Possitive dapat dikatakan sebagai masterpiece-nya,
karena karya itulah yang paling pokok dan sistematis. Buku ini dapat juga
dikatakan sebagai representasi bentangan aktualisasi dari yang di dalamnya
Comte menulis tentang tiga tahapan perkembangan masyarakat, yaitu:
a.
Pada zaman atau tahap teologis, orang mengarahkan rohnya kepada
hakekat “batiniah” segala sesuatu kepada “sebab pertama” dan “tujuan terakhir”
segala sesuatu. Jadi orang masih percaya kepada kemungkinan adanya pengetahuan
atau pengenalan yang mutlak. Oleh karena itu orang berusaha memilikinya. Orang
yakin bahwa dibelakang tiap kejadian tersirat suatu pernyataan kehendak yang
secara khusus. Ada taraf pemikiran ini terdapat lagi 3 tahap, yaitu:
1.
Tahap yang paling bersahaja atau primitive, ketika orang menganggap
bahwa segala benda berjiwa (animisme).
2.
Tahap ketika orang menurunkan kelompok-kelompok hal-hal tertentu
seluruhnya masing-masing diturunkannya dari suatu kekuatan adikodrati, yang
melatarbelakangi sedemikian rupa sehingga tiap kawasan gejala-gejala memiliki
dewa-dewa nya sendiri (politeisme).
3.
Tahap yang tertinggi, ketika
orang mengganti dewa yang bermacam-macam itu dengan satu tokoh tertinggi, yaitu
dalam monoteisme.
b.
Zaman yang kedua, yaitu zaman metafisika, sebenarnya hanya
mewujudkan suatu perubahan saja dari zaman teologis. Sebab kekuatan-kekuatan
yang adikodrati atau dewa-dewa diganti dengan kekuatan-kekuatan yang abstrak,
dengan pengertian-pengertian, atau dengan pengada-pengada yang lahiriah, yang
kemudian dipersatukan dalam sesuatu yang bersifat umum, yang disebut alam dan
yang dipandang sebagai asal segala penampakan atau gejala yang khusus.
c.
Zaman positif adalah zaman ketika orang tau bahwa tiada gunanya
untuk berusaha mencapai pengenalan atau pengetahuan yang mutlak, baik
pengenalan teologis maupun pengenalan metafisis. Ia tidak lagi mau melacak asal
dan tujuan terakhir seluruh alam semesta ini atau melacak hakekat yang sejati
dari segala sesuatu yang berada dibelakang segala sesuatu. Sekarang orang
berusaha menemukan hukum-hukum kesamaan dan urutan yang terdapat pada
fakta-fakta yang telah dikenal atau yang disajikan kepadanya, yaitu dengan
pengamatan dan memakai akalnya. Pada zaman ini akan tercapai “menerangkan” berarti fakta-fakta yang khusus dihubungkan
dengan suatu fakta yang umum. Tujuan tertinggi pada zaman ini akan tercapai
bilamana segala gejala telah dapat disusun dan diatur dibawah satu fakta yang
umum saja.
Seperti yang telah dipaparkan diatas, hukum dalam 3 zaman atau 3
tahap ini bukan hanya berlaku bagi perkembangan rohani seluruh umat manusia,
tetapi juga berlaku bagi tiap orang sendiri-sendiri. Misalnya, sebagai
kanak-kanak oranng adalah seorang teolog, sebagai pemuda ia menjadi seorang
metafisikus dan sebagai orang dewasa ia adalah seorang fisikus.[5]
Pada akhir hidupnya, setiap individu berupaya untuk membangun agama
baru tanpa teologi atas dasar filsafat positifnya. Agama baru tanpa teologi ini
mengagungkan akal dan mendambakan kemanusiaan dengan semboyan “cinta sebagai
prinsip, teratur sebagai basis, kemajuan sebagai tujuan”.[6]
Sebagai istilah ciptaannya yang terkenal altruism yaitu
menganggap bahwa soal utama bagi manusia ialah usaha untuk hidup bagi kepentingan
orang lain.[7]
D.
Pengaruh Positivisme
Positivisme yang diperkenalkan Comte berpengaruh pada kehidupan
intelektual abad sembilan belas. Di Inggris, sahabat Comte, Jhon Stuart Mill,
dengan antusias memerkenalkan pemikiran Comte sehingga banyak tokoh di Inggris
yang mengapresiasi karya besar Comte, diantaranya G.H. Lewes, penulis The
Biographical History of Philosophy dan Comte’s Philosophy of Sciences; Henry
Sidgwick, filosof Cambridge yang kemudian mengkritisi pandangan-pandangan
Comte; John Austin, salah satu ahli paling berpengaruh pada abad sembilan
belas; dan John Morley, seorang politisi sukses. Namun dari orang-orang itu
hanya Mill dan Lewes yang secara intelektual terpengaruh oleh Comte.[8]
Di Prancis, pengaruh Comte tampak dalam pengakuan sejarawan ilmu,
Paul Tannery, yang meyakini bahwa pengaruh Comte terhadapnya lebih dari
siapapun. Ilmuwan lain yang dipengaruhi Comte adalah Emile Meyerson, seorang
filosof ilmu, yang mengkritisi dengan hormat ide-ide Comte tentang sebab,
hukum-hukum saintifik, psikologi dan fisika. Dua orang ini adalah salah satu
dari pembaca pemikiran Comte yang serius selama setengah abad pasca kematiannya.
Karya besar Comte bagi banya filososf, ilmuwan dan sejarawan masa itu adalah
bacaan wajib.
Namun Comte baru benar-benar berpengaruh melalui Emile Durkheim
yang pada 1887 merupakan orang pertama yang ditunjuk untuk mengajar sosiologi,
ilmu yang diwariskan Comte, di universitas Prancis. Dia merekomendasikan karya
Comte untuk dibaca oleh mahasiswa sosiologi dan mendeskripsikannya sebagai ”the
best possible intiation into the study of sociology”. Dari sinilah kemudian
Comte dikenal sebagai bapak sosiologi dan pemikirannya berpengaruh pada
perkembangan filsafat secara umum.[9]
E.
Kritik atas Positivisme
Dalam sejarahnya, positivisme dikritik karena generalisasi yang
dilakukannya terhadap segala sesuatu dengan menyatakan bahwa semua ”proses
dapat direduksi menjadi peristiwa-peristiwa fisiologis, fisika, atau kimia” dan
bahwa ”proses-proses sosial dapat direduksi ke dalam hubungan antar
tindakan-tindakan individu” dan bahwa ”organisme biologis dapat direduksi
kedalam sistem fisika”.[10]
Kritik juga dilancarkan oleh Max Horkheimer dan teoritisi kritis
lain. Kritik ini didasarkan atas dua hal, ketidaktepatan positivisme memahami
aksi sosial dan realitas sosial yang digambarkan positivisme terlalu
konservatif dan mendukung status quo. Kritik pertama berargumen bahwa
positivisme secara sistematis gagal memahami bahwa apa yang mereka sebut
sebagai ”fakta-fakta sosial” tidak benar-benar ada dalam realitas objektif,
tapi lebih merupakan produk dari kesadaran manusia yang dimediasi secara
sosial. Positivisme mengabaikan pengaruh peneliti dalam memahami realitas
sosial dan secara salah menggambarkan objek studinya dengan menjadikan realitas
sosial sebagai objek yang eksis secara objektif dan tidak dipengaruhi oleh
orang-orang yang tindakannya berpengaruh pada kondisi yang diteliti. Kritik
kedua menunjuk positivisme tidak memiliki elemen refleksif yang mendorongnya
berkarakter konservatif. Karakter konservatif ini membuatnya populer di
lingkaran politik tertentu.[11]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam pembahasan di atas dapat disimpulkan
bahwa August Comte merupakan seorang yang menggunakan positivisme pertama kali
sebagai sebuah filsafat pada abad ke Sembilan belas. Menurutnya, positivisme
adalah sebuah filsafat yang meyakini bahwa satu-satunya pengetahuan yang benar
adalah yang didasarkan pada pengalaman aktual-fisikal, yang faktual dan
positif, sehingga metafisika ditolaknya.
Menurut August Comte, perkembangan pemikiran
manusia berlangsung tiga tahap, yaitu tahap teologis, tahap metafisis, dan
tahap ilmiah atau positif. Dalam hukum 3
zaman atau 3 tahap ini bukan hanya berlaku bagi perkembangan rohani seluruh
umat manusia, tetapi juga berlaku bagi tiap orang sendiri-sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Dr. Harun
Hadiwijono.1980. Sari Sejarah Filsafat Barat 2. Kanisius:Yogyakarta
Muzairi, M.
Ag.2009.Filsafat Umum.Teres:Yogyakarta
Asmoro
Achmadi.2010. Filsafat Umum. Rajagrafindo Persada: Jakarta
[1] Oxford Learner’s Pocket Dictionary, hlm. 333.
[2]
Asmoro Achmadi.2010. Filsafat Umum. Rajagrafindo Persada: Jakarta. Hal.
119
[3] http://en.wikipedia.org/wiki/Auguste_Comte di akses pada 29
Februari 2012
[6]
Asmoro Achmadi.2010. Filsafat Umum. Rajagrafindo Persada: Jakarta. Hal.
121
[7] Pringgodigdo, (Ed.), cit., hlm. 42
[8] Robert Brown, op.cit., h. 141.
[9] Ibid. hlm 141-3
[10] Mary Pickering, Auguste Comte: An Intellectual Biography, v. I, h.
566 dalam http://en.wikipedia.org/wiki/Positivism
[11] http://en.wikipedia.org/wiki/Positivism
Tidak ada komentar:
Posting Komentar