Minggu, 04 November 2012

emosi


BAB I
PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam kehidupan banyak sekali permasalahan, dalam berita-berita banyak orang-orang yang masuk bui yang sebagian besar dikarenakan emosi, seperti pemukulan, pembunuhan, penganiyaan, adu fisik, dan sebagainya. Kebanyakan dari mereka tidak bisa mengontrol emosi mereka. Alangkah sayangnya permasalahan-permasalahan itu timbul karena hal yang sepele dan emosi yang meluap-luap.
Beberapa kejadian buruk banyak yang dikarenakan oleh emosi yang berlebihan. Sesungguhnya emosi itu apa? Emosi adalah perasaan yang terpengaruh kerena adanya rangsang yang ditangkap oleh indra. Agar emosi tidak berlebihan, kita harus bisa mengendalikan emosi dalam diri. Oleh karena itu, makalah ini akan membahas tentang emosi, dari pengertian, cara mengatasi emosi, teori-teori emosi, kegunaan emosi, pengaruh emosi dalam tubuh kita, dan macam-macam emosi.
Setiap manusia pasti mempunyai tingkat emosi yang berbeda-beda, emosi inilah yang akan mengendalikan diri kita untuk melakukan tindakan-tindakan  yang terkadang tidak kita inginkan dan yang kita inginkan. Secara umum emosi di bagi menjadi dua, yaitu emosi positf dan emosi negative. Emosi positf seperi rasa percaya diri, yakin, senang, suka cita, dan sebagainya. Sedangkan emosi negative seperti marah, dengki, maki-maki. Emosi jenis ini merupakan kekuatan nekrofilik,karena dapat menjadi kekuatan yang bersifat merugikan dan mematikan. Emosi ini harus bisa dikendalikan agar tidak memberikan dampak buruk.
B.       RUMUSAN MASALAH
a.         Apa pengertian emosi secara umum dan menurut para ahli?
b.         Berapa besar pengaruh emosi dalam diri manusia?
c.         Apa saja teori-teori tentang emosi?
d.        Bagaimana cara manusia dalam mengontrol emosinya?
e.         Apa macam-macam/jenis-jenis emosi?

C.       TUJUAN MAKALAH
a.         Untuk menjelaskan pengertian emosi, agar manusia bisa memahami emosi dalam dirinya.
b.         Untuk mengetahui macam-macam teori emosi.
c.         Membedakan antara perasaan dan emosi.
D.      MANFAAT MAKALAH
a.         Manusia bisa mengontrol emosi dalam dirinya, bisa mengatur emosi saat senang, sedih, marah, dan lain-lain.
b.          Manusia bisa menempatkan emosi pada keadaan yang tepat, emosi yang pantas ditunjukkan dan yang tidak pantas ditunjukkan di tempat umum.
c.         Manusia dapat mengendalikan emosinya agar bisa menguasai diri lagi.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Emosi
Kata emosi berasal dari kata movere, kata kerja bahasa latin yang berarti ”menggerakkan, bergerak”, ditambah dengan awalan “e-“ untuk arti “bergerak menjauhi”. Semua emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak, rencana seketika untuk mengatasi masalah.[1]
Dalam makna harfiah, Oxford English Dictionary mendenifikasilkan emosi sebagai “setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu; setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap”.[2]
Menurut Chaplin (1972) definisi mengenai emosi cukup bervariasi yang dikemukakan oleh para ahli psikologi dari berbagai orientasi. Namun secara umum dapat disimpulkan bahwa  emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong seseorang berperilaku menangis.
Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi, emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi dapat merupakan motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku intensional manusia. (Prawitasari,1995)
Emosi adalah perasaan yang terpengaruh kerena adanya rangsang yang ditangkap oleh indra.

B.     Teori-teori Emosi
Ø  Teori yang berpijak pada hubungan emosi dengan gejala kejasmanian
Sejak dahulu orang telah menghubungkan antara emosi yang dialami oleh seorang dengan gejala-gejala kejasmanian. Dengan demikian pada waktu itu telah ada pendapat tentang adanya hubungan antara kejiwaan dengan kejasmanian. Apabila seseorang mengalami emosi, pada individu akan terjadi perubahan-perubahan kejasmaniannya.
Adanya hubungan antara emosi dengan gejala kejasmanian diantara para ahli tidaklah terdapat perbedaan pendapat. Yang menjadi silang pendapat adalah mana yang menjadi sebab dan akibatnya. Hal inilah yang menimbulkan teori-teori yang berkaitan dengan emosi yang bertitik pijak pada hubungan emosi dengan gejala kejasmanian. 
Ø  Teori hubungan antar emosi
Menurut Robert Plutchik (Morgan, dkk., 1984) bahwa teori mengenai deskripsi emosi yang bekaitan dengan emosi primer (primary emotion) dan hubungannya satu dengan yang lain. Menurut Plutchik emosi itu dibedakan dalam tiga dimensi, yaitu intensitas, kesamaan (similarity), dan polaritas atau pertentangan (polarity). Dimensi ini digunakan untuk mengadakan hubungan emosi yang satu dengan yang lain. Misal grief, sadness, persivenes merupakan dimensi intensitas. Grief dan ecstasy merupakan polaritas, sedangkan grief dan loathing merupakan similaritas.
Ø  Teori emosi berkaitan dengan motivasi
Teori emosi yang berkaitan dengan motivasi dikemukakan oleh Leeper (Iih. Morgan, dkk., 1984).  Garis pemisah antara emosi dengan motivasi adalah sangat tipis. Misalnya, takut adalah emosi, tetapi ini adalah motif pendorong perilaku, karena bila orang takut maka orang akan terdorong berperlaku kearah tujuan tertentu (goal direction). Menurut Leeper, perilaku goal direction diwarnai oleh emosi.
Berkaitan dengan adanya hubungan antara emosi dengan motivasi, maka ada teori yang disebut teori arousal (arousal theory) yaitu teori hubungan antara emosi dengan perilaku.
Ø  Teori kognitif mengenai emosi
Teori ini dikemukakan oleh Richard Lazarus dan teman-teman kerjanya yang mengemukakan teori tentang emosi yang menekankan penafsiran atau pengertian mengenai informasi yang datang dari beberapa sumber. Karena penafsiran ini mengandung cognition atau memproses informasi dari luar dan dari dalam (jasmani dan ingatan, maka teori tersebut di sebut teori kognitif mengenai emosi. Teori ini menyatakan bahwa emosi yang dialami itu merupakan hasil penafsiran, atau evaluasi mengenai informasi yang datang dari situasi lingkungan dan dari dalam.
Dari teori-teori tersebut, masih ada teori yang dikemukakan oleh Darwin mengenai emosi dalam hubungannya dengan ekspresi muka. Darwin (Carlson, 1987) mengajukan suatu teori mengenai ekspresi muka dalam kaitannya dengan emosi. Seperti yang dipaparkan, bahwa ada kaitan antara emosi dengan gejala kejasmanian. Yang menonjol adalah kaitan antara emosi dengan ekspresi muka. Hal ini dapat diamati dengan jelas bagaimana seseorang yang marah akan terlihat pula bagaimana roman mukanya. Orang yang kagum akan terlihat pula dalam ekspresi roman mukanya. Darwin mengemukakan pendapatnya bahwa hal tersebut erat kaitan antara emosi yang dialami oleh seseorang yang dicerminkan pada roman mukanya.
Menurut Darwin orang-orang dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda menggunakan pola yang sama dalam pola gerak facial mucles untuk menyatakan keadaan emosional seseorang. Oleh karena itu menurut Darwin pola ekspresi roman muka adalah bersifat universal dan oleh karena merupakan bawaan. Teori yang dikemukakan oleh Darwin itu oleh Peterson (1991) disebut sebagai teori dengan pendekatan evolusi.[3]
Selain itu ada juga dua macam pendapat tentang terjadinya emosi, yaitu nativistik dan empiristik. Pendapat yang nativistik mengatakan bahwa emosi pada dasarnya merupakan bawaan sejak lahir. Sedangkan pendapat yang empiristik mengatakan bahwa emosi dibentuk oleh pengalaman dan proses belajar.
Salah satu penganut paham nativistik yaitu Rene Descartes. Ia mengatakan bahwa sejak lahir manusia telah mempunyai enam emosi dasar, yaitu cinta, gembira, keinginan, benci, sedih, dan kagum.
Di pihak kaum empiristik seperti William James dan Carl Lange mengatakan bahwa emosi adalah hasil persepsi seseorang terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh sebagai respon terhadap rangsang yang datang dari luar. Misalnya, seseorang melihat harimau, maka reaksinya adalah peredaran darah makin cepat karena denyut jantung makin cepat, paru-paru lebih cepat memompa darah, dan sebagainya. Respon-respon tubuh ini kemudian dipersepsikan dan timbulah rasa takut. Rasa takut timbul disebabkan oleh hasil pengalaman dan proses belajar.[4]


C.     Perubahan-perubahan pada tubuh saat terjadi Emosi
Pada saat emosi, tubuh akan mengalami perubahan-perubahan, antara lain:
v  Reaksi elektris pada kulit: meningkat bila terpesona.
v  Peredaran darah: bertambah cepat bila marah.
v  Denyut jantung: bertambah cepat bila terkejut.
v  Pernafasan: bernafas panjang kalau kecewa.
v  Pupil mata: membesar bila marah.
v  Liur: mongering bila takut atau tegang.
v  Bulu roma: berdir kalau takut.
v  Pencernaan: mencret-mencret kalau tegang.
v  Otot: ketegangan dan ketakutan akan menyebabkan otot menegang.
v  Komposisi darah: komposisi darah akan ikut berubah dalam keadaan emosional karena kelenjar-kelenjar lebih aktif.[5]
D.    Kegunaan Emosi
Menurut para ahli, emosi menuntun kita ke arah yang terbukti berjalan baik ketika menangani tantangan yang datang berulang-ulang dalam hidup manusia, karena situasi ini berlangsung terus menerus dalam sepanjang sejarah manusia, nilai kelangsungan hidup, emosi dibuktikan oleh terekamnya nilai tersebut dalam system saraf sebagai sifat bawaan dan kecenderungan automatis perasaan manusia.[6]
E.     Macam-macam Emosi
Secara umum emosi dikategorikan menjadi dua jenis yaitu:
·            Emosi dasar positif adalah perasaan  berupa suka cita (joy), yakin/ percaya (trust/faith), pengharapan (hope), syukur (praise), berbela rasa (campassion).
·           Sedangkan emosi dasar negative adalah perasaan berupa dengki, dendam, iri, kejam, menolak dan tak mau mengerti.
Beberapa tokoh mengemukakan tentang macam-macam antara lain Descrates. Menurut Descrates, emosi terbagi atas : Desire (hasrat), hate (benci), Sorrow (sedih/duka), Wonder (heran), Love (cinta) dan Joy (kegembiraan).
Sedangkan JB Watson mengemukakan tiga macam emosi, yaitu : fear (ketakutan), Rage(kemarahan), Love (cinta). Daniel Goleman (2002 : 411) mengemukakan beberapa macam-macam emosi:
v  Amarah: beringas, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, tersinggung, bermusuhan, dan lain-lain.
v  Kesediahan: pedih, sedih, muram, suram, ditolak, putus asa, kesepian dan lain-lain.
v  Rasa takut: cemas, takut, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, tidak tenang, fobia, dan panik.
v  Kenikmatan: bahagia, gembira, ringan, puas, riang, senang, terhibur, bangga, senang sekali, dan lai-lain.
v  Cinta: penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasih, kasmaran.
v  Terkejut: takjup, terpana, terkesiap.
v  Jengkel: hina, jijil, muak, mual, benci, tidak suka, mau muntah.
v  Malu: rasa salah, malu hati, kesal hati, aib, dan lain-lain.
Yang jelas, daftar ini tidak menyelesaikan setiap pertanyaan bagaimana mengelompokkan emosi. Misalnya, bagaimana tentang perasaan yang campur aduk seperti iri hati, variasi marah yang mengandung sedih dan takut? Dan bagaimana tentang nilai-nilai klasik seperti pengharapan dan kepercayaan, keberanian dan mudah memaafkan, kepastian dan ketenangan hati? Atau beberapa cacat “bawaan”, perasaan seperti ragu-ragu, puas diri, malas dan lamban, atau mudah bosan? Tidak ada jagwaban yang jelas, perdebatan ilmiah tentang bagaimana menggolongkan emosi berjalan terus.[7]
Dalam membedakan satu emosi dengan emosi lain dan menggolongkan emosi-emosi sejenis dalam satu golongan sangatlah sukar, karena hal-hal berikut:
ü  Emosi yang sangat mendalam (misalnya sangat marah atau sangat takut) menyebabkan aktivitas badan sangat tinggi. Sehingga seluruh tubuh aktif, dan dalam keadaan seperti ini sukar menentukan apakah seseorang sedang takut atau sedang marah.
ü  Satu orang dapat menghayati satu macam emosi dengan berbagai cara. Misalnya, kalau marah ia bergetar di tempat, tetapi lain kali ia memaki-maki atau mungkin lari.
ü  Nama yang umumnya diberikan kepada berbagai jenis emosi biasanya didasarkan pada sifat rangsangnya, bukan pada keadaan emosinya sendiri. Jadi, takut adalah emosi yang timbul terhadap sesuatu bahaya, marah adalah emosi yang timbul terhadap sesuatu yang menjengkelkan.
ü  Pengenalan emosi secara subyektif dan introspektif, sukaar dilakukan karena selalu saja ada pengaruh dari lingkungan.[8]
E.       Pertumbuhan Emosi
Pertumbuhan dan perkembangan emosi ditentukan oleh proses pematangan dan proses belajar. Seorang bayi yang baru lahir dapat menangis, tetapi ia harus mencapai tingkat kematangan tertentu tertawa. Setelah anak itu besar, maka ia akan belajar bahwa menangis dan tertawa dapat digunakan untuk maksud-maksud tertentu pada situasi tertentu.
Pada bayi yang baru lahir, satu-satunya emosi yang nyata adalah kegelisahan yang tampak sebagai ketidaksenangan dalam bentuk menangis dan meronta. Pada keadaan tenang, bayi itu tidak menunjukkan perbuatan apapun, jadi emosinya netral.
Tiga bulan kemudian baru tampak pembedaan. Pada saat ini terdapat dua ekstrimitas, yaitu rasa tertekan atau terganggu dan rasa senang atau gembira. Senang atau gembira merupakan perkembangan emosi lebih lanjut yang tidak terdapat pada waktu lahir.
Pada usia lima bulan, marah dan benci mulai dipisahkan dari rasa tertekan atau terganggu. Usia tujuh bulan mulai tampak rasa takut. Antara usia 10-12 bulan perasaan bersemangat dan kasih saying mulai terpisah dari rasa senang.
Makin besar anak itu makin besar pula kemampuannya untuk belajar sehingga perkembangan emosinya makin rumit. Perkembangan emosi melalui proses kematangan hanya terjadi saat usia satu tahun. Setelah itu, perkembangan selanjutnya lebih banyak ditentukan oleh proses belajar.
Pengaruh kebudayaan besar sekali terhadap perkembangan emosi. Karena dalam tiap-tiap kebudayaan diajarkan cara menyatakan emosi yang konvensional dank has dalam kebudayaan yang bersangkutan, ekspresi emosi hanya dapat dimengerti oleh orang lain dalam kebudayaan yang sama.
Sikap yang disertai dengan emosi yang berlebih-lebihan disebut kompleks, misalnya kompleks rendah diri yaitu siakp negative terhadap diri sendiri yang disertai dengan perasaan malu, takut, tidak berdaya, segan bertemu orang lain, dan sebagainya.
*        Takut adalah perasaan yang sangat mendorong individuuntuk menjauhi sesuatu dan sedapat mungkin menghindari kontak dengan hal itu.
*        Kuatir adalah rasa takut yang tidak mempunyai objek yang jelas atau tidak ada objeknya sama sekali.
*        Cemburu  adalah bentuk khusus dari kekuatiran yang didasari oleh kurang adanya keyakinan terhadap diri sendiri dan ketakutan kehilangan kasih saying dari seseorang.
*        Gembira adalah ekspresi dari kelegaan yaitu terbebas dari ketegangan.
*        Marah adalah terganggunya suatu aktivitas untuk mencapai suatu tujuan.[9]

F.        Cara mengontrol emosi pada diri
Ada orang yang mudah terpengaruh oleh kesan yang diterima indra, ada pula yang tidak mudah terpengaruh oleh kesan yang diterima indra. Menurut Hey Mans, mudah tidaknya perasaan seseorang terpengaruh oleh kesan-kesan disebut emosionalitas (Sumadi Suryabrata, 1994, hlm. 83). Emosionalitas merupakan salah satu tipe kepribadian manusia. Berdasarkan emosionalitas manusia digolongkan menjadi dua tipe, yaitu:
a. Orang yang emosionalitasnya tinggi (mudah terpengaruh kesan-kesan).
Orang yang emosionalitasnya tinggi mempunyai sifat mudah marah, mudah tersinggung, perhatian tidak mendalam, tidak suka tegang menegang, pendirian kuat dan selalu ingin berkuasa.
b. Emosionalitasnya rendah (tidak mudah terpengaruh kesan-kesan).
Orang yang memiliki emosional rendah memiliki sifat berhati dingin, berhati-hati dalam menentukan pendapat, praktis, pandai menahan nafsu, suka tegang menegang, dan selalu memberi kebebasan kepada orang lain.[10]
Cara mengendalikan emosi:
a. Berusaha mengendalikan dan mengarahkan kearah positif.
b. Setiap tindakan harus didasarkan pada akal sehat.
c. Berpikirlah tentang akibat yang mungkin terjadi.
Mengontrol emosi pada diri kita sendiri sebenarnya tidak sulit. Apabila kita marah dan tidak bisa mengontrol emosi pada diri, kemungkinan perilaku kita pun juga tidak karuan. Dan hal ini akan berdampak negatif untuk kita. Tapi emosi seperti itu pasti bisa kita kontrol.
Ada beberapa tips atau cara untuk mengontrol emosi, sebagai berikut:
1.        Waktu rasa marahmu terpancing, pertama yang harus dilakukan adalah diam. Jangan biarkan mulutmu mengeluarkan suara bahkan kata-kata yang tidak karuan atau tidak sopan, kemungkinan hal ini terjadi secara reflex, tapi sebenarnya masih bisa di kontrol atau di kendalikan.
2.        Ambil nafas panjang dari hidung, tahan selama 10 detik, lalu buang lewat mulut. Karena waktu marah, darah mengalir ke atas, tapi waktu kita ambil nafas, oksigen masuk ke ruang otak yang membuat kita menjadi lebih rileks atau tenang.
3.        Ketika diri kita sudah agak tenang, otomatis otak bisa berpikir dengan jernih. Karena kebanyakan emosi membawa kita kepada hal-hal 'nonsense' yang kita lakukan, yang nantinya akan kita sesali.
4.        Ingatkan diri sendiri, manusia yang tak bisa mengontrol emosi itu orang yang lemah. Pikirkan hal-hal yang sebaliknya, meskipun sepertinya tak ada, pikirkan hal-hal yang baik.
5.        Dengar musik favorit, lakukan hal yang menyenangkan.
6.        Jangan biarkan emosimu terus berlarut. karena emosi yang diberi makan dan menjadi gemuk, nantinya bisa menjadi raksasa penghancur yang bukan hanya menghancurkan sekelilingmu, tapi juga reputasi kita. Emosi diberi makan dengan cara apa? Dengan cara membiarkan dirimu hanyut dalam kemarahan, rasa marah itu diingat-ingat terus, rasa merasa diperlakukan tidak adil itu dipertajam, dan jadinya kemarahan akibat emosi sesaat itu mengakibatkan kebencian yang bisa berakar. Tentunya itu tak baik untuk kesehatanmu sendiri.
7.        Pikir panjang apa yang akan terjadi selanjutnya apabila kamu marah. Banyak orang cenderung tak berpikir panjang waktu mau marah-marah, dan bertindak buruk bahkan jahat kalau sudah marah. Tapi reputasi bener-bener menjadi buruk kalau sudah dibicarakan soal emosi.
8.        Pikirkan akibatnya. Kalau emosimu dilanjutkan, apa akibatnya? Selain reputasi yang buruk, kita juga jadi sasaran empuk maenan setan, karena kemarahan yang gak terkontrol menumpuk bata kebencian di hati kita.
9.        Segala sesuatu dimulai dari pikiran. Kontrol pikiranmu, kamu bisa kontrol emosimu. Berpikir benar membuahkan tindakan benar, berpikir salah membuahkan tindakan salah. Sekarang semuanya terserah diri kita sendiri.
Ø  Cara mengendalikan emosi seseorang dengan memegang jari
Gerakan memegang jari adalah cara yang sangat mudah untuk mengendalikan  emosi. Emosi dan perasaan adalah seperti ombak energi yang bergerak melalui badan, pikiran dan jiwa kita. Di setiap jari kita ada saluran atau meridian aliran energi yang berhubungan dengan organ tubuh dan emosi yang bersangkutan. Perasaan yang sangat kuat atau luar biasa bisa menyumbat  atau menghambat aliran energi, yang mengakibatkan rasa sakit atau perasaan sesak di tubuh kita. Memegang jari sambil menarik napas dalam-dalam dapat mengurangi dan menyembuhkan ketegangan fisik dan emosi.
Gerakan memegang jari ini sangat membantu dalam kehidupan sehari-hari. Waktu kita berada dalam keadaan yang sulit, merasa marah, tegang, takut atau menangis, jari bisa dipegang untuk membawa rasa damai, fokus  dan tenang sehingga kita bisa menhadapi keadaan dan membuat keputusan dengan tenang. Gerakan ini bisa juga dilakukan untuk relaksasi dengan musik, atau dikerjakan sebelum tidur untuk melepaskan persoalan yang dihadapi pada hari itu dan membawa kedamaian, dan ketenangan yang dalam pada tubuh dan jiwa. Latihan ini dapat dikerjakan sendiri atau dengan satu orang lain.


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Secara umum dapat disimpulkan bahwa  emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong seseorang berperilaku menangis.
Teori-teori emosi meliputi: Teori yang berpijak pada hubungan emosi dengan gejala kejasmanian, teori hubungan antar emosi, teori emosi berkaitan dengan motivasi, dan teori kognitif mengenai emosi.
Cara mengendalikan emosi yaitu Berusaha mengendalikan dan mengarahkan kea rah positif, Setiap tindakan harus didasarkan pada akal sehat, Berpikirlah tentang akibat yang mungkin terjadi, Berusahalan untuk memanfaatkan orang lain.
Macam-macam emosi diantaranya yaitu Emosi marah, Emosi sedih, susah, duka/pilu, Emosi iri, Emosi takut, Emosi cinta, dan lain-lain.


DAFTAR PUS TAKA

Walgito, Bimo, Prof. Dr. 1974. Pengantar Psikologi Umum. Andi: Yogyakarta
Goleman, Daniel. 2002. Emotional Intelligence.  Gramedia Pustaka Umum: Jakarta
Fauzi, Ahmad, Drs. 1997. Psikologi Umum. Pustaka Setia: Bandung
http://belajarpsikologi.com/pengertian-emosi/










[1]Daniel Goleman. Emotional Intelligence. Hal 7
[2] Ibid, hal 411
[3] Prof. Dr. Bimo Walgito. Pengantar Psikologi Umum. Hal. 210
[4] Drs. H. Ahmad Fauzi. Psikologi Umum. Hlm. 54
[5] Ibid. hlm 55
[6] Daniel Goleman. Emotional Intelligence. Hal. 4
[7] Ibid. hal 411
[8] Drs. H. Ahmad Fauzi. Psikologi Umum. Hlm.56
[9] Ibid. hlm. 59
[10] Sumadi Suryabrata, 1994, hlm. 83