BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam
kehidupan banyak sekali permasalahan, dalam berita-berita banyak orang-orang
yang masuk bui yang sebagian besar dikarenakan emosi, seperti pemukulan,
pembunuhan, penganiyaan, adu fisik, dan sebagainya. Kebanyakan dari mereka
tidak bisa mengontrol emosi mereka. Alangkah sayangnya
permasalahan-permasalahan itu timbul karena hal yang sepele dan emosi yang meluap-luap.
Beberapa
kejadian buruk banyak yang dikarenakan oleh emosi yang berlebihan. Sesungguhnya
emosi itu apa? Emosi adalah perasaan yang terpengaruh kerena adanya rangsang yang
ditangkap oleh indra. Agar emosi tidak berlebihan, kita harus bisa mengendalikan
emosi dalam diri. Oleh karena itu, makalah ini akan membahas tentang emosi,
dari pengertian, cara mengatasi emosi, teori-teori emosi, kegunaan emosi,
pengaruh emosi dalam tubuh kita, dan macam-macam emosi.
Setiap
manusia pasti mempunyai tingkat emosi yang berbeda-beda, emosi inilah yang akan
mengendalikan diri kita untuk melakukan tindakan-tindakan yang terkadang
tidak kita inginkan dan yang kita inginkan. Secara umum emosi di bagi menjadi
dua, yaitu emosi positf dan emosi negative. Emosi positf seperi rasa percaya
diri, yakin, senang, suka cita, dan sebagainya. Sedangkan emosi negative
seperti marah, dengki,
maki-maki. Emosi
jenis ini merupakan kekuatan nekrofilik,karena dapat menjadi kekuatan yang
bersifat merugikan dan mematikan. Emosi ini harus bisa dikendalikan agar tidak
memberikan dampak buruk.
B. RUMUSAN
MASALAH
a.
Apa pengertian emosi secara umum dan menurut para
ahli?
b.
Berapa besar pengaruh emosi dalam diri manusia?
c.
Apa saja teori-teori tentang emosi?
d.
Bagaimana cara manusia dalam mengontrol emosinya?
e.
Apa macam-macam/jenis-jenis emosi?
C. TUJUAN MAKALAH
a.
Untuk menjelaskan pengertian emosi, agar manusia
bisa memahami emosi dalam dirinya.
b.
Untuk mengetahui macam-macam teori emosi.
c.
Membedakan antara perasaan dan emosi.
D. MANFAAT
MAKALAH
a.
Manusia bisa mengontrol emosi dalam dirinya, bisa
mengatur emosi saat senang, sedih, marah, dan lain-lain.
b.
Manusia bisa
menempatkan emosi pada keadaan yang tepat, emosi yang pantas ditunjukkan dan
yang tidak pantas ditunjukkan di tempat umum.
c.
Manusia dapat mengendalikan emosinya agar bisa
menguasai diri lagi.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Emosi
Kata emosi berasal dari kata movere, kata kerja bahasa latin yang berarti ”menggerakkan,
bergerak”, ditambah dengan awalan “e-“ untuk arti “bergerak menjauhi”. Semua
emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak, rencana seketika untuk
mengatasi masalah.[1]
Dalam makna harfiah, Oxford English Dictionary
mendenifikasilkan emosi sebagai “setiap kegiatan atau pergolakan pikiran,
perasaan, nafsu; setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap”.[2]
Menurut Chaplin (1972) definisi
mengenai emosi cukup bervariasi yang dikemukakan oleh para ahli psikologi dari
berbagai orientasi. Namun secara umum dapat disimpulkan bahwa emosi
merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri
individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan suasana hati
seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong
seseorang berperilaku menangis.
Emosi berkaitan
dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi, emosi merupakan salah
satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi dapat merupakan
motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku
intensional manusia. (Prawitasari,1995)
Emosi adalah perasaan yang
terpengaruh kerena adanya rangsang yang ditangkap oleh indra.
B. Teori-teori
Emosi
Ø Teori yang
berpijak pada hubungan emosi dengan gejala kejasmanian
Sejak dahulu orang telah menghubungkan antara emosi yang
dialami oleh seorang dengan gejala-gejala kejasmanian. Dengan demikian pada
waktu itu telah ada pendapat tentang adanya hubungan antara kejiwaan dengan
kejasmanian. Apabila seseorang mengalami emosi, pada individu akan
terjadi perubahan-perubahan kejasmaniannya.
Adanya hubungan antara emosi dengan gejala
kejasmanian diantara para ahli tidaklah terdapat perbedaan pendapat. Yang
menjadi silang pendapat adalah mana yang menjadi sebab dan akibatnya. Hal
inilah yang menimbulkan teori-teori yang berkaitan dengan emosi yang bertitik
pijak pada hubungan emosi dengan gejala kejasmanian.
Ø Teori hubungan
antar emosi
Menurut Robert Plutchik (Morgan, dkk., 1984) bahwa
teori mengenai deskripsi emosi yang bekaitan dengan emosi primer (primary emotion) dan hubungannya satu
dengan yang lain. Menurut Plutchik emosi itu dibedakan dalam tiga dimensi,
yaitu intensitas, kesamaan (similarity),
dan polaritas atau pertentangan (polarity).
Dimensi ini digunakan untuk mengadakan hubungan emosi yang satu dengan yang
lain. Misal grief, sadness, persivenes
merupakan dimensi intensitas. Grief
dan ecstasy merupakan polaritas,
sedangkan grief dan loathing merupakan similaritas.
Ø Teori emosi
berkaitan dengan motivasi
Teori emosi yang berkaitan dengan motivasi
dikemukakan oleh Leeper (Iih. Morgan, dkk., 1984). Garis pemisah antara emosi dengan motivasi
adalah sangat tipis. Misalnya, takut adalah emosi, tetapi ini adalah motif
pendorong perilaku, karena bila orang takut maka orang akan terdorong berperlaku
kearah tujuan tertentu (goal direction).
Menurut Leeper, perilaku goal direction diwarnai oleh emosi.
Berkaitan dengan adanya hubungan antara emosi dengan
motivasi, maka ada teori yang disebut teori arousal
(arousal theory) yaitu teori hubungan
antara emosi dengan perilaku.
Ø Teori kognitif
mengenai emosi
Teori ini dikemukakan oleh Richard Lazarus dan
teman-teman kerjanya yang mengemukakan teori tentang emosi yang menekankan
penafsiran atau pengertian mengenai informasi yang datang dari beberapa sumber.
Karena penafsiran ini mengandung cognition atau memproses informasi dari luar
dan dari dalam (jasmani dan ingatan, maka teori tersebut di sebut teori
kognitif mengenai emosi. Teori ini menyatakan bahwa emosi yang dialami itu
merupakan hasil penafsiran, atau evaluasi mengenai informasi yang datang dari
situasi lingkungan dan dari dalam.
Dari teori-teori tersebut, masih ada teori yang
dikemukakan oleh Darwin mengenai emosi dalam hubungannya dengan ekspresi muka.
Darwin (Carlson, 1987) mengajukan suatu teori mengenai ekspresi muka dalam kaitannya
dengan emosi. Seperti yang dipaparkan, bahwa ada kaitan antara emosi dengan
gejala kejasmanian. Yang menonjol adalah kaitan antara emosi dengan ekspresi
muka. Hal ini dapat diamati dengan jelas bagaimana seseorang yang marah akan
terlihat pula bagaimana roman mukanya. Orang yang kagum akan terlihat pula
dalam ekspresi roman mukanya. Darwin mengemukakan pendapatnya bahwa hal
tersebut erat kaitan antara emosi yang dialami oleh seseorang yang dicerminkan
pada roman mukanya.
Menurut Darwin orang-orang dengan latar belakang kebudayaan
yang berbeda menggunakan pola yang sama dalam pola gerak facial mucles untuk
menyatakan keadaan emosional seseorang. Oleh karena itu menurut Darwin pola
ekspresi roman muka adalah bersifat universal dan oleh karena merupakan bawaan.
Teori yang dikemukakan oleh Darwin itu oleh Peterson (1991) disebut sebagai
teori dengan pendekatan evolusi.[3]
Selain itu ada juga dua macam pendapat tentang
terjadinya emosi, yaitu nativistik dan empiristik. Pendapat yang nativistik
mengatakan bahwa emosi pada dasarnya merupakan bawaan sejak lahir. Sedangkan
pendapat yang empiristik mengatakan bahwa emosi dibentuk oleh pengalaman dan
proses belajar.
Salah satu penganut paham nativistik yaitu Rene
Descartes. Ia mengatakan bahwa sejak lahir manusia telah mempunyai enam emosi
dasar, yaitu cinta, gembira, keinginan, benci, sedih, dan kagum.
Di pihak kaum empiristik seperti William James dan
Carl Lange mengatakan bahwa emosi adalah hasil persepsi seseorang terhadap
perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh sebagai respon terhadap rangsang
yang datang dari luar. Misalnya, seseorang melihat harimau, maka reaksinya
adalah peredaran darah makin cepat karena denyut jantung makin cepat, paru-paru
lebih cepat memompa darah, dan sebagainya. Respon-respon tubuh ini kemudian
dipersepsikan dan timbulah rasa takut. Rasa takut timbul disebabkan oleh hasil
pengalaman dan proses belajar.[4]
C.
Perubahan-perubahan pada tubuh saat terjadi Emosi
Pada saat emosi, tubuh akan mengalami
perubahan-perubahan, antara lain:
v Reaksi
elektris pada kulit: meningkat bila terpesona.
v Peredaran
darah: bertambah cepat bila marah.
v Denyut
jantung: bertambah cepat bila terkejut.
v Pernafasan:
bernafas panjang kalau kecewa.
v Pupil mata:
membesar bila marah.
v Liur:
mongering bila takut atau tegang.
v Bulu roma:
berdir kalau takut.
v Pencernaan:
mencret-mencret kalau tegang.
v Otot:
ketegangan dan ketakutan akan menyebabkan otot menegang.
v Komposisi
darah: komposisi darah akan ikut berubah dalam keadaan emosional karena
kelenjar-kelenjar lebih aktif.[5]
D.
Kegunaan Emosi
Menurut para ahli, emosi menuntun kita ke arah yang
terbukti berjalan baik ketika menangani tantangan yang datang berulang-ulang
dalam hidup manusia, karena situasi ini berlangsung terus menerus dalam
sepanjang sejarah manusia, nilai kelangsungan hidup, emosi dibuktikan oleh
terekamnya nilai tersebut dalam system saraf sebagai sifat bawaan dan
kecenderungan automatis perasaan manusia.[6]
E.
Macam-macam Emosi
Secara
umum emosi dikategorikan menjadi dua jenis yaitu:
·
Emosi dasar positif adalah perasaan
berupa suka cita (joy), yakin/ percaya (trust/faith), pengharapan (hope),
syukur (praise), berbela rasa (campassion).
·
Sedangkan emosi dasar negative
adalah perasaan berupa dengki, dendam, iri, kejam, menolak dan tak mau
mengerti.
Beberapa tokoh
mengemukakan tentang macam-macam antara lain Descrates. Menurut Descrates, emosi
terbagi atas : Desire (hasrat), hate (benci), Sorrow (sedih/duka), Wonder
(heran), Love (cinta) dan Joy (kegembiraan).
Sedangkan JB Watson
mengemukakan tiga macam emosi, yaitu : fear (ketakutan), Rage(kemarahan), Love
(cinta). Daniel Goleman (2002 : 411) mengemukakan beberapa
macam-macam emosi:
v Amarah:
beringas, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa
pahit, tersinggung, bermusuhan, dan lain-lain.
v Kesediahan:
pedih, sedih, muram, suram, ditolak, putus asa, kesepian dan lain-lain.
v Rasa takut:
cemas, takut, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, tidak tenang,
fobia, dan panik.
v Kenikmatan:
bahagia, gembira, ringan, puas, riang, senang, terhibur, bangga, senang sekali,
dan lai-lain.
v Cinta:
penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti,
hormat, kasih, kasmaran.
v Terkejut:
takjup, terpana, terkesiap.
v Jengkel: hina,
jijil, muak, mual, benci, tidak suka, mau muntah.
v Malu: rasa
salah, malu hati, kesal hati, aib, dan lain-lain.
Yang jelas, daftar ini tidak menyelesaikan setiap pertanyaan bagaimana
mengelompokkan emosi. Misalnya, bagaimana tentang perasaan yang campur aduk
seperti iri hati, variasi marah yang mengandung sedih dan takut? Dan bagaimana
tentang nilai-nilai klasik seperti pengharapan dan kepercayaan, keberanian dan
mudah memaafkan, kepastian dan ketenangan hati? Atau beberapa cacat “bawaan”,
perasaan seperti ragu-ragu, puas diri, malas dan lamban, atau mudah bosan?
Tidak ada jagwaban yang jelas, perdebatan ilmiah tentang bagaimana
menggolongkan emosi berjalan terus.[7]
Dalam membedakan satu emosi dengan emosi lain dan menggolongkan
emosi-emosi sejenis dalam satu golongan sangatlah sukar, karena hal-hal
berikut:
ü Emosi yang
sangat mendalam (misalnya sangat marah atau sangat takut) menyebabkan aktivitas
badan sangat tinggi. Sehingga seluruh tubuh aktif, dan dalam keadaan seperti
ini sukar menentukan apakah seseorang sedang takut atau sedang marah.
ü Satu orang
dapat menghayati satu macam emosi dengan berbagai cara. Misalnya, kalau marah
ia bergetar di tempat, tetapi lain kali ia memaki-maki atau mungkin lari.
ü Nama yang umumnya
diberikan kepada berbagai jenis emosi biasanya didasarkan pada sifat
rangsangnya, bukan pada keadaan emosinya sendiri. Jadi, takut adalah emosi yang
timbul terhadap sesuatu bahaya, marah adalah emosi yang timbul terhadap sesuatu
yang menjengkelkan.
ü Pengenalan
emosi secara subyektif dan introspektif, sukaar dilakukan karena selalu saja
ada pengaruh dari lingkungan.[8]
E.
Pertumbuhan Emosi
Pertumbuhan dan perkembangan emosi ditentukan oleh
proses pematangan dan proses belajar. Seorang bayi yang baru lahir dapat
menangis, tetapi ia harus mencapai tingkat kematangan tertentu tertawa. Setelah
anak itu besar, maka ia akan belajar bahwa menangis dan tertawa dapat digunakan
untuk maksud-maksud tertentu pada situasi tertentu.
Pada bayi yang baru lahir, satu-satunya emosi yang
nyata adalah kegelisahan yang tampak sebagai ketidaksenangan dalam bentuk
menangis dan meronta. Pada keadaan tenang, bayi itu tidak menunjukkan perbuatan
apapun, jadi emosinya netral.
Tiga bulan kemudian baru tampak pembedaan. Pada saat
ini terdapat dua ekstrimitas, yaitu rasa tertekan atau terganggu dan rasa
senang atau gembira. Senang atau gembira merupakan perkembangan emosi lebih
lanjut yang tidak terdapat pada waktu lahir.
Pada usia lima bulan, marah dan benci mulai
dipisahkan dari rasa tertekan atau terganggu. Usia tujuh bulan mulai tampak
rasa takut. Antara usia 10-12 bulan perasaan bersemangat dan kasih saying mulai
terpisah dari rasa senang.
Makin besar anak itu makin besar pula kemampuannya
untuk belajar sehingga perkembangan emosinya makin rumit. Perkembangan emosi
melalui proses kematangan hanya terjadi saat usia satu tahun. Setelah itu,
perkembangan selanjutnya lebih banyak ditentukan oleh proses belajar.
Pengaruh kebudayaan besar sekali terhadap
perkembangan emosi. Karena dalam tiap-tiap kebudayaan diajarkan cara menyatakan
emosi yang konvensional dank has dalam kebudayaan yang bersangkutan, ekspresi
emosi hanya dapat dimengerti oleh orang lain dalam kebudayaan yang sama.
Sikap yang disertai dengan emosi yang
berlebih-lebihan disebut kompleks, misalnya kompleks rendah diri yaitu siakp
negative terhadap diri sendiri yang disertai dengan perasaan malu, takut, tidak
berdaya, segan bertemu orang lain, dan sebagainya.
F.
Cara mengontrol emosi pada diri
Ada orang yang mudah terpengaruh oleh kesan yang diterima
indra, ada pula yang tidak mudah terpengaruh oleh kesan yang diterima indra.
Menurut Hey Mans, mudah tidaknya perasaan seseorang terpengaruh oleh
kesan-kesan disebut emosionalitas (Sumadi Suryabrata, 1994, hlm. 83).
Emosionalitas merupakan salah satu tipe kepribadian manusia. Berdasarkan
emosionalitas manusia digolongkan menjadi dua tipe, yaitu:
a. Orang
yang emosionalitasnya tinggi (mudah terpengaruh kesan-kesan).
Orang yang emosionalitasnya tinggi mempunyai
sifat mudah marah, mudah tersinggung, perhatian tidak mendalam, tidak suka
tegang menegang, pendirian kuat dan selalu ingin berkuasa.
b.
Emosionalitasnya rendah (tidak mudah terpengaruh kesan-kesan).
Orang yang memiliki emosional rendah
memiliki sifat berhati dingin, berhati-hati dalam menentukan pendapat, praktis,
pandai menahan nafsu, suka tegang menegang, dan selalu memberi kebebasan kepada
orang lain.[10]
Cara mengendalikan emosi:
a.
Berusaha mengendalikan dan mengarahkan kearah positif.
b.
Setiap tindakan harus didasarkan pada akal sehat.
c.
Berpikirlah tentang akibat yang mungkin terjadi.
Mengontrol
emosi pada diri
kita sendiri sebenarnya tidak sulit. Apabila kita marah dan tidak bisa mengontrol emosi pada diri, kemungkinan perilaku kita pun juga
tidak karuan. Dan hal ini akan berdampak negatif untuk kita. Tapi emosi seperti
itu pasti bisa kita kontrol.
Ada beberapa tips atau cara untuk mengontrol emosi, sebagai
berikut:
1.
Waktu rasa marahmu terpancing,
pertama yang harus dilakukan adalah diam. Jangan biarkan mulutmu mengeluarkan
suara bahkan kata-kata yang tidak karuan atau tidak sopan, kemungkinan hal ini
terjadi secara reflex, tapi sebenarnya masih bisa di kontrol atau di
kendalikan.
2.
Ambil nafas panjang dari hidung,
tahan selama 10 detik, lalu buang lewat mulut. Karena waktu marah, darah
mengalir ke atas, tapi waktu kita ambil nafas, oksigen masuk ke ruang otak yang
membuat kita menjadi lebih rileks atau tenang.
3.
Ketika diri kita sudah agak tenang,
otomatis otak bisa berpikir dengan jernih. Karena kebanyakan emosi membawa kita
kepada hal-hal 'nonsense' yang kita lakukan, yang nantinya akan kita sesali.
4.
Ingatkan diri sendiri, manusia yang
tak bisa mengontrol emosi itu orang yang lemah. Pikirkan hal-hal yang
sebaliknya, meskipun sepertinya tak ada, pikirkan hal-hal yang baik.
5.
Dengar musik favorit, lakukan hal
yang menyenangkan.
6.
Jangan biarkan emosimu terus
berlarut. karena emosi yang diberi makan dan menjadi gemuk, nantinya bisa
menjadi raksasa penghancur yang bukan hanya menghancurkan sekelilingmu, tapi
juga reputasi kita. Emosi diberi makan dengan cara apa? Dengan cara membiarkan
dirimu hanyut dalam kemarahan, rasa marah itu diingat-ingat terus, rasa merasa
diperlakukan tidak adil itu dipertajam, dan jadinya kemarahan akibat emosi
sesaat itu mengakibatkan kebencian yang bisa berakar. Tentunya itu tak baik
untuk kesehatanmu sendiri.
7.
Pikir panjang apa yang akan terjadi
selanjutnya apabila kamu marah. Banyak orang cenderung tak berpikir panjang
waktu mau marah-marah, dan bertindak buruk bahkan jahat kalau sudah marah. Tapi
reputasi bener-bener menjadi buruk kalau sudah dibicarakan soal emosi.
8.
Pikirkan akibatnya. Kalau emosimu
dilanjutkan, apa akibatnya? Selain reputasi yang buruk, kita juga jadi sasaran
empuk maenan setan, karena kemarahan yang gak terkontrol menumpuk bata
kebencian di hati kita.
9.
Segala sesuatu dimulai dari pikiran.
Kontrol pikiranmu, kamu bisa kontrol emosimu. Berpikir benar membuahkan
tindakan benar, berpikir salah membuahkan tindakan salah. Sekarang semuanya
terserah diri kita sendiri.
Ø Cara
mengendalikan emosi seseorang dengan memegang jari
Gerakan memegang jari adalah cara yang sangat mudah untuk
mengendalikan emosi. Emosi dan perasaan adalah seperti ombak energi yang
bergerak melalui badan, pikiran dan jiwa kita. Di setiap jari kita ada saluran
atau meridian aliran energi yang berhubungan dengan organ tubuh dan emosi yang
bersangkutan. Perasaan yang sangat kuat atau luar biasa bisa menyumbat
atau menghambat aliran energi, yang mengakibatkan rasa sakit atau perasaan
sesak di tubuh kita. Memegang jari sambil menarik napas dalam-dalam dapat
mengurangi dan menyembuhkan ketegangan fisik dan emosi.
Gerakan memegang jari ini sangat membantu dalam kehidupan
sehari-hari. Waktu kita berada dalam keadaan yang sulit, merasa marah, tegang,
takut atau menangis, jari bisa dipegang untuk membawa rasa damai, fokus
dan tenang sehingga kita bisa menhadapi keadaan dan membuat keputusan dengan
tenang. Gerakan ini bisa juga dilakukan untuk relaksasi dengan musik, atau
dikerjakan sebelum tidur untuk melepaskan persoalan yang dihadapi pada hari itu
dan membawa kedamaian, dan ketenangan yang dalam pada tubuh dan jiwa. Latihan
ini dapat dikerjakan sendiri atau dengan satu orang lain.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Secara umum dapat disimpulkan
bahwa emosi merupakan reaksi
terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi
gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi
terlihat tertawa, emosi sedih mendorong seseorang berperilaku menangis.
Teori-teori emosi meliputi: Teori
yang berpijak pada hubungan emosi dengan gejala kejasmanian, teori hubungan
antar emosi, teori emosi berkaitan dengan motivasi, dan teori kognitif mengenai
emosi.
Cara mengendalikan emosi yaitu Berusaha
mengendalikan dan mengarahkan kea rah positif, Setiap tindakan harus didasarkan
pada akal sehat, Berpikirlah tentang akibat yang mungkin terjadi, Berusahalan
untuk memanfaatkan orang lain.
Macam-macam emosi diantaranya yaitu
Emosi marah, Emosi sedih, susah, duka/pilu, Emosi iri, Emosi takut, Emosi cinta,
dan lain-lain.
DAFTAR
PUS TAKA
Walgito,
Bimo, Prof. Dr. 1974. Pengantar Psikologi
Umum. Andi: Yogyakarta
Goleman,
Daniel. 2002. Emotional Intelligence. Gramedia Pustaka Umum: Jakarta
Fauzi,
Ahmad, Drs. 1997. Psikologi Umum. Pustaka
Setia: Bandung
http://belajarpsikologi.com/pengertian-emosi/
[1]Daniel Goleman. Emotional Intelligence. Hal 7
[2] Ibid, hal 411
[3] Prof. Dr. Bimo Walgito. Pengantar
Psikologi Umum. Hal. 210
[4] Drs. H. Ahmad Fauzi. Psikologi Umum. Hlm. 54
[5] Ibid. hlm 55
[6] Daniel Goleman. Emotional
Intelligence. Hal. 4
[7] Ibid. hal 411
[8] Drs. H. Ahmad Fauzi. Psikologi Umum. Hlm.56
[9] Ibid. hlm. 59